Langsung ke konten utama

Memulai untuk kembali bermimpi



 Hal apa yang paling anda takutkan dalam hidup?

Bagi saya adalah tidak lagi bermanfaat untuk orang lain. Sebagai seorang wanita pertama dalam keluarga, saya diajarkan untuk menjadi perempuan yang kuat, harus serba bisa dan memiliki tekad sekuat baja. Saya terbiasa diajarkan untuk harus bisa melewati segala tantangan. Garis hidup sudah disediakan sebagai contoh untuk adik-adik saya yang lain. Saya terbiasa untuk terlihat bahagia, baik-baik saja dan bisa diandalkan. Pengalaman hidup membawa saya untuk menikmati rasanya bermanfaat untuk orang lain dengan kemampuan saya. Hingga pada suatu titik, saya mempertanyakan apakah mungkin saya sekarang tidak bermanfaat lagi. Saya jadi mempertanyakan nilai hidup saya dan apakah garis yang sudah digariskan untuk saya ini memang yang saya inginkan.

Saat ini saya sudah berkeluarga dan memiliki dua anak perempuan yang sedang butuh 1000% perhatian dari saya. Saya sedang berhenti bekerja dan fokus untuk keluarga. Keseharian sebagai ibu rumah tangga ternyata sangatlah sulit dan membuat saya kehabisan tenaga. Setiap harinya, saya harus memastikan seluruh anggota keluarga mendapatkan semua kebutuhan pokoknya, dari segi makanan, pakaian atau kebutuhan lainnya. Bisa dibilang kehidupan pekerjaan saya sebelumnya yang terbiasa padat, penuh, terburu-buru dan dipenuhi dengan deadline yang memusingkan berubah menjadi pekerjaan yang tetap masih padat, tetap penuh, tetap terburu-buru dan memusingkan tetapi juga menguras tenaga dan mental. saya tidak mengatakan bahwa pekerjaan ini adalah pekerjaan yang mudah. Ini adalah pekerjaan yang membutuhkan komitmen yang kuat. Sehari-harinya dipenuhi dengan rutinitas yang sama. Tenaga hilang, badan lelah, pikiran juga bercabang kemana-mana. Tapi entah kenapa pekerjaan ini terasa membosankan dan terasa tidak bermanfaat. Saya merasa kehilangan jati diri.

Sama seperti orang normal berusia akhir 20 tahunan, saya merasa saya mengalami life quarter crisis. Menanyakan makna hidup saya, apakah semua ini cukup untuk saya dan apakah ini jati diri saya yang saya mau. Apabila anda mengenal saya, anda biasa melihat apa yang saya post di social media saya, momen hidup saya, anda pasti tidak pernah membayangkan bahwa saya juga mengalami segala kebimbangan ini. Semua kebahagiaan dan kesempurnaan yang berada di sosial media adalah doa saya agar saya bisa terus berbahagia dan memiliki rasa syukur atas apa yang saya miliki. Adapun, pemikirian-pemikiran yang saya rasakan sebelumnya pun terasa valid dan nyata membayangi hari-hari saya. Menjadi perbincangan rutin saya dan suami.

Apabila anda pernah membaca buku dr. Seuss yang berjudul Oh, The Place You’ll Go, ada sebuah lembah bernama the waiting place, dimana orang-orang disana terjebak dalam siklus menunggu yang terus menerus. Dan saya merasa bahwa saya saat ini sedang berada di lembah tersebut. Saya menunggu pagi datang, saya menunggu anak-anak pulang sekolah, saya menunggu suami pulang bekerja, saya menunggu untuk sebuah keputusan iya atau tidak, bahkan saya menunggu kapan semua fase menunggu ini akan berakhir, saya menunggu sebuah kesempatan yang saya tahu pasti tidak akan pernah datang. Saya tahu hanya saya sendiri yang bisa membuat saya keluar dari lembah menunggu ini. Hanya saya sendiri yang bisa menentukan kemana saya bisa pergi dan melangkah.

Saya tersadar bahwa ternyata selama ini saya tidak memiliki arah tujuan. Saya tidak tau kemana saya ingin melangkah. Bagaimana saya akan keluar jika saya tidak punya tempat tujuan. Setelah menggali lebih dalam, Kembali ke masa-masa saya berani bermimpi. Saya merasa apa yang saya rasakan saat ini adalah hasil dari pikirian-pikiran merendahkan diri saya sendiri. Saya tenggelam dalam lautan ketakutan. Ketakutan untuk mencoba, ketakutan akan kegagalan, ketakutan akan berhenti di tengah jalan dan ketakutan akan apa yang dipikirkan orang lain terhadap saya jika hal-hal buruk terjadi. Rasa takut ini diabaikan dibiarkan tumbuh sebegitu besar. Sungguh saya sangat menyayangkan hal ini baru saya sadari belakangan.  Penyesalan saya ini membawa, saya untuk memulai menulis blog ini, Untuk memulai kembali bermimpi, untuk memberikan kembali manfaat untuk orang lain dan untuk kembali merasa hidup, jauh dari rasa takut. Saya percaya hanya diri saya sendirilah yang mampu melawan ketakutan dalam diri saya. 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dissecting Cancer : Learn from the Basic

Hallo, Welcome to my blog. This blog is my learning journal diary. Today we will talk about the basic of cancer. About the terminology and basic classification. Here is the basic terminology of cancer: Cancer means the uncontrolled growth and division of abnormal cells in a part of the body. A tumor is a swelling in a part of the body, generally without inflammation, caused by abnormal growth of tissue, whether it's benign or malignant. Neoplasm means a new and abnormal growth of tissue in some part of the body. What causes cancer? Is it caused by genetic issues? Yes.                                            Is it caused by a single mutation? No. Cancer is caused by the accumulation of detrimental variations in the genome over the course of a lifetime. Actually, a long time ago, doctors said cancer is called "cancer" because it looks like a crab, with red s...

Bergedorf, Hamburg : 3 Alasan Utama Mengapa Saya Betah

 Moin! Guten tag und schönen tag alle zusammen. Hari ini saya akan bercerita tentaang apa yang saya sukai dari tempat saya tinggal saat ini. Saat ini saya da keluarga kecil saya tinggal di Bergedorf, Hamburg. Hamburg adalah salah satu kota besar di Jerman. Hamburg berada disebelah sungai Elbe yang terkenal dengan pusat perdagangan dan pelabuhannya. Saya tinggal di ujung timur Hamburg, sebuah kecamatan kecil bernama Bergedorf. Berge berarti gunung dan dorf berarti desa. Tempat saya tinggal tidak dekat dengan kanal-kanal Hamburg ataupun sungai Elbe. Saya tinggal di daerah semi pegungungan, seperti Bandung, tempat tinggal kami sebelumnya. Daerah tempat saya tinggal berbukit-bukit dan jalannya naik turun. Saya tinggal bersebelahan dengan hutan dan lahan pertanian.  Saya menemukan banyak perbedaan antara tempat tinggal saya di Bandung dan Hamburg. Beberapa saya sukai dan ada pula yang tidak saya sukai. Hari ini kita akan membahas apa yang saya suka dari Bergedorf, Hamburg. 1. Banya...